Di Balik Seragam Cokelat, Ada Kepedulian, Rumah Baru untuk Nenek Encih

  • Bagikan
banner 468x60

Polisi Bersama Warga Membangun kembali Rumah Nenek Encih di Kecamatan Sukanagara, Cianjur (foto dok Polres Cianjur)

INILAHCIANJUR.COM – Di usianya yang hampir menyentuh satu abad, Nenek Encih (94) tak pernah membayangkan rumahnya akan kembali berdiri kokoh.

Perempuan sepuh itu selama bertahun-tahun tinggal di rumah sederhana yang lapuk dimakan usia di Kampung Maga RT 03/03, Desa Pasirbaru, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur.

Dindingnya rapuh, sebagian kayu penyangga mulai keropos, dan atapnya tak lagi mampu sepenuhnya menahan hujan. Setiap kali angin bertiup kencang, Encih hanya bisa berdoa dalam diam, berharap rumah kecilnya tetap bertahan.

Namun pada Rabu, 25 Februari 2026, harapan itu perlahan berubah menjadi kenyataan. Jajaran Polres Cianjur memulai pembangunan rumah layak huni untuk Encih melalui program perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).

Sejak pagi, suasana Kampung Maga terasa berbeda. Sejumlah anggota polisi datang bukan untuk penegakan hukum, melainkan membawa pasir, semen, dan semangat gotong royong. Warga sekitar pun turut bergabung, menyingsingkan lengan baju, ikut mengaduk semen dan menata batu bata.

Kapolres Cianjur, AKBP Dr. A. Alexander Yurikho Hadi, mengatakan pembangunan rumah nenek Encih dilakukan secara bersama-sama. Ia mengerahkan jajaran Polsek Pagelaran untuk turun langsung ke lapangan.

Kapolsek Pagelaran Iptu Budi Rustandi memimpin pelaksanaan kegiatan bersama Bhabinkamtibmas Desa Pasirbaru, Bripka Nanda, serta masyarakat setempat. Mereka tidak sekadar bekerja, tetapi juga berbagi cerita dan tawa dengan sang nenek yang sesekali memandang haru ke arah rumahnya yang tengah dibangun.

Baca Juga :

Kini, proses pembangunan telah memasuki tahap pemasangan pasir dan adukan tembok. Bata demi bata tersusun rapi, membentuk dinding baru yang lebih kokoh. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar pekerjaan konstruksi biasa. Namun bagi Encih, setiap lapisan semen adalah simbol perhatian dan kepedulian.

Tatapan mata sang Nenek itu berkaca-kaca saat melihat para anggota polisi dan warga bekerja tanpa lelah. Di usia 94 tahun, ketika tenaga tak lagi sekuat dulu dan langkah semakin pelan, ia masih merasakan hangatnya kebersamaan.

Program rutilahu ini bukan hanya membangun rumah, tetapi juga membangun harapan. Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan, kehadiran aparat kepolisian yang turun langsung membantu warga lanjut usia menjadi pengingat bahwa kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama.

Rumah itu mungkin belum sepenuhnya selesai. Namun bagi Nenek Encih, fondasi terkuatnya sudah berdiri lebih dulu yaitu rasa peduli, gotong royong, dan kasih sayang antar sesama.

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!