INILAHCIANJUR.COM — Ketika sebagian orang menunggu haknya cair, tapi Taufiq (42) justru memilih jalan berbeda, ada apa ?
Ketua RW 03 Cluster Perumahan Arwinda, Desa Bojong, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur itu menolak menikmati insentif yang menjadi haknya selama ini. Bukan karena dia tak membutuhkan, tetapi karena ingin dana tersebut kembali menjadi manfaat bagi masyarakat setempat.
Taufiq sukarela menyerahkan seluruh insentifnya untuk pembangunan masjid dan berbagai kegiatan sosial dilingkungan warga RW 03.
Penyerahan uang insentifnya itu berlangsung di kediamannya. Para ketua RT dan Karang Taruna RW 03 turut menyaksikan momen tersebut. Kamis (13/8/2026) malam.
Bagi Taufiq, keputusan itu bukan sekadar soal uang. Ia ingin menunjukkan bahwa jabatan di lingkungan masyarakat juga membawa tanggung jawabnya untuk berbagi.
“Insentif ini lebih baik saya kembalikan kepada masyarakat. Saya memilih memberikannya untuk pembangunan masjid dan kegiatan sosial,” kata Taufiq.
Sebagian dana juga ia serahkan kepada Karang Taruna RW 03. Dana tersebut dapat digunakan untuk menunjang kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang melibatkan warga.
“Saya juga menyerahkan sebagian kepada Karang Taruna supaya bisa digunakan untuk kegiatan sosial. Mudah-mudahan manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak warga,” ujarnya.
Taufiq mengaku keputusan tersebut sejalan dengan aktivitas sosial yang selama ini ia jalani. Bahkan Ia aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan bersama komunitas Bagong Mogok.
Baginya, membantu sesama tidak perlu menunggu seseorang memiliki jabatan atau posisi tertentu.
“Bagi saya, membantu masyarakat bukan karena jabatan. Ini bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan masyarakat,” ungkapnya.
Sikap Taufiq itu menjadi pesan sederhana di tengah kehidupan bermasyarakat, apa yang diterima seseorang tidak selalu harus berakhir di tangan sendiri.
Taufiq memilih mengembalikannya kepada lingkungan tempat ia menjalankan amanah sebagai ketua RW.
Keputusan Taufiq mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sebuah insentif, ia ingin melahirkan manfaat yang lebih panjang bagi lingkungannya.
Apalagi pembangunan masjid membutuhkan dukungan. Kegiatan sosial membutuhkan biaya. Karang Taruna juga membutuhkan ruang untuk bergerak dan menjalankan aktivitas bagi masyarakat.
Taufiq berharap dana yang ia serahkan dapat menjawab sebagian kebutuhan tersebut.
Ia pun tidak ingin langkahnya berhenti sebagai aksi pribadi. Ia berharap keputusan itu ikut menumbuhkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat RW 03.
“Kalau kita bisa membantu, kenapa tidak kita lakukan,” pungkasnya.
Di RW 03, insentif yang seharusnya masuk ke kantong pribadi itu akhirnya mengambil jalan lain, kembali kepada masyarakat, berubah menjadi pembangunan, kegiatan sosial, dan berharap agar semangat berbagi terus hidup.***


