INILAHCIANJUR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dengan tujuan sederhana namun penting, memastikan setiap anak memperoleh asupan gizi yang cukup untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi. Karena itu, setiap menu yang tersaji di meja makan para siswa selalu menjadi perhatian.
Perhatian itu tertuju pada menu MBG yang disiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bangun Nusantara Berdaya di Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur.
Sebanyak 106 penerima manfaat memperoleh paket berisi nasi, telur, bakwan atau bala-bala, jeruk, dan susu kemasan kecil, pada hati jumat (14/8/2026).
Bakwan yang identik sebagai makanan ringan justru hadir sebagai pelengkap menu utama. Kehadirannya memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai nilai gizi yang diberikan, mengingat program MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang para peserta didik.
SMP Sultan Hidayatullah penerima manfaat, menu makanan tidak disajikan menggunakan ompreng.
Pengurus sekolah, Abdul Baits, menjelaskan cara tersebut bertujuan memperbanyak porsi sehingga santri dapat menikmati makanan kembali pada sore hari.
“Santri di sini terbiasa makan bersama seperti ngaliwet menggunakan alas daun pisang. Untuk MBG kami menyediakan piring besar,” ujar pada wartawan.
Saepul pihak SPPG menjelaskan, menu berbeda diberikan untuk setiap kelompok penerima manfaat. Menurutnya, bakwan sayuran hanya menjadi variasi menu pada akhir pekan dan bukan menu yang disajikan setiap hari.
“Menu bakwan sayuran kami pilih sebagai variasi menu sayuran di akhir pekan. Menu ini tidak menjadi pilihan rutin,” jelasnya berdasarkan keterangan dari bagian gizi.
Meski demikian, penjelasan Saepul belum menguraikan secara rinci kandungan protein, vitamin, mineral, maupun nilai gizi dari bakwan sebagai bagian dari menu paket MBG.
Saat dikonfirmasi mengenai kandungan gizi menu tersebut, pihak pengelola juga belum dapat memberikan penjelasan langsung dan memilih berkoordinasi terlebih dahulu dengan tenaga ahli gizi.
Perdebatan mengenai bakwan dalam menu MBG akhirnya tidak hanya berbicara soal rasa atau variasi makanan.
Kini yang lebih penting, publik menunggu kepastian bahwa setiap menu yang disajikan benar-benar memenuhi standar gizi, sehingga tujuan besar Program Makan Bergizi Gratis tetap terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh para siswa.***


