BeritaCianjurFeatured

Maulid Nabi di Lapas Cianjur, Saat WBP Menata Hati dan Merajut Harapan untuk Keluarga

35
×

Maulid Nabi di Lapas Cianjur, Saat WBP Menata Hati dan Merajut Harapan untuk Keluarga

Sebarkan artikel ini
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren At Taubah Lapas kelas IIB Cianjur, jumat (4/9/26) ( foto doc lapas)

INILAHCIANJUR.COM— Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Cianjur, Jumat (4/9/2026), suasana berbeda terasa di Masjid At-Taubah.

Lantunan shalawat menggema. Para santri Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) duduk bersama mengikuti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.

Tidak ada kemewahan dalam peringatan itu. Namun, ada pesan yang jauh lebih dalam yaitu tentang kesempatan untuk berubah, memperbaiki diri, dan menyiapkan kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

Maulid Nabi kali ini bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Bagi para WBP, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki langkah.

Kegiatan yang diselenggarakan Pondok Pesantren At-Taubah Lapas Cianjur itu diikuti petugas dan seluruh santri WBP.

Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur Prayogo Mubarak hadir bersama jajaran pejabat struktural. Ketua/Pimpinan Pondok Pesantren At-Taubah Lapas Cianjur KH. Ahmad Yani bersama para Assatidz turut mendampingi kegiatan.

Di tempat itu, pesan tentang akhlak Rasulullah SAW terasa begitu dekat dengan kehidupan para WBP.
Kejujuran, kesabaran, tanggung jawab dan kemauan meninggalkan kebiasaan buruk menjadi nilai yang terus mereka pelajari melalui program pembinaan.

Bukan Sekadar Menunggu Kebebasan

Menjalani masa pidana tentu
membawa konsekuensi. Namun, waktu di dalam Lapas juga menjadi ruang untuk belajar dan melakukan perubahan.

Pondok Pesantren At-Taubah hadir sebagai bagian dari proses tersebut.

Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur Prayogo Mubarak mengatakan pembinaan kepribadian dan kerohanian memiliki peran penting dalam membantu WBP membangun perubahan sikap dan perilaku.

BACA JUGA  WBP Lapas Cianjur Pilih Akhiri Hidup Gara-Gara TBC

“Melalui penguatan nilai kepribadian dan kerohanian, kami berharap seluruh Warga Binaan dapat mengikuti setiap program pembinaan di Pondok Pesantren At-Taubah dengan sungguh-sungguh. Ilmu dan nilai-nilai yang diperoleh hendaknya dapat menjadi bekal untuk memperbaiki diri dan diterapkan dalam kehidupan, khususnya ketika nantinya kembali berkumpul bersama keluarga dan masyarakat,” ujar Prayogo.

Kalimat itu membawa satu pesan penting, kebebasan bukan sekadar keluar dari pintu Lapas.

Kebebasan juga harus menjadi awal dari kehidupan yang lebih bertanggung jawab.

Karena di luar sana, ada keluarga yang menunggu. Ada orang tua yang berharap. Ada anak dan orang-orang terdekat yang mungkin ingin melihat perubahan.

Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Pesan itu semakin kuat ketika Ustadz E. Royani atau Aang Petir menyampaikan tausiah. Ia mengajak seluruh santri WBP meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Jujur. Sabar. Bertanggung jawab. Tidak berbohong.

Nilai-nilai tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi seseorang yang sedang menjalani proses pembinaan, nilai itu menjadi bagian penting untuk membangun kembali kepercayaan dan kehidupan.

Ustadz E. Royani juga mengingatkan pentingnya memperbanyak shalawat sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.

“Semoga melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kita senantiasa menjadi umat yang mencintai Rasulullah SAW, mengikuti ajarannya, dan kelak mendapatkan pertolongan beliau di yaumil akhir,” tuturnya.

BACA JUGA  Polres Cianjur Intensifkan KYD, Sita 502 Botol Miras dan 155 Knalpot Brong

Ia juga memotivasi para santri WBP agar tidak berhenti memperbaiki diri dan mengikuti seluruh program pembinaan kepesantrenan dengan sungguh-sungguh.

Sebab, ketika masa pidana berakhir, mereka akan kembali menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
Kembali ke rumah. Kembali bertemu keluarga. Kembali berinteraksi dengan masyarakat.

Di situlah perubahan akan diuji.

Harapan yang Tumbuh dari Balik Tembok

Peringatan Maulid Nabi di Masjid At-Taubah akhirnya membawa makna yang lebih luas.

Di balik tembok Lapas, para WBP tidak hanya belajar tentang agama. Mereka juga belajar bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menjadi alasan untuk berhenti menata masa depan.

Setiap nasihat yang mereka dengar menjadi bekal. Setiap pembelajaran menjadi bagian dari proses. Setiap hari menjadi kesempatan untuk memperbaiki sikap.

Dan di balik semua itu, ada satu harapan yang sederhana: ketika waktunya tiba untuk kembali kepada keluarga, mereka pulang sebagai pribadi yang lebih baik.

Maulid Nabi Muhammad SAW pun menjadi pengingat bahwa perubahan tidak harus menunggu hari kebebasan.

Perubahan dapat dimulai sekarang.

Dari hati yang mau belajar, sikap yang mau berubah, dan langkah yang terus diarahkan menuju kehidupan yang lebih baik.

Dari balik tembok Lapas Cianjur, harapan itu perlahan tumbuh.

Bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga yang menunggu dan masyarakat yang kelak kembali menerima mereka.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!