INILAHCIANJUR.COM — Sepiring makanan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi seorang ibu, makanan yang diberikan kepada anak usia dua tahun bukan sekadar soal kenyang.
Ada tekstur yang harus mudah dikunyah, rasa yang bisa diterima lidah anak, porsi yang sesuai, dan tentu saja makanan yang benar-benar layak disantap.
Di tengah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang menjadi bagian dari upaya pemenuhan gizi anak, persoalan itu justru muncul di Nagrak, Cianjur.
Sejumlah orang tua penerima MBG kelompok B3 mempertanyakan menu yang mereka terima. Keluhan mereka bukan karena menolak program pemerintah, tetapi karena makanan yang datang belum tentu mampu disantap oleh anak-anak yang menjadi penerima manfaat.
Pada Kamis (20/8/2026), SPPG Nagrak yang berlokasi di depan SMK PGRI Cianjur, Kampung Bihbul, Desa Nagrak, membagikan menu berupa tahu, ayam dan pisang.
Kelompok penerima B3 tersebut antara lain murid PAUD, murid PKBM dan warga binaan Posyandu.
Bagi sebagian orang dewasa, menu itu mungkin terlihat biasa. Tetapi bagi balita, terutama anak sekitar usia dua tahun, kemampuan mengunyah dan menerima tekstur makanan tentu berbeda.

Seorang ibu dari Kampung Sudi, Desa Nagrak, menyampaikan kegelisahannya.
Ia berharap penyedia MBG tidak hanya menghitung kandungan makanan, tetapi juga mempertimbangkan bagaimana makanan tersebut bisa diterima dan dikonsumsi anak.
“Bade usul upami tiasa mah MBG kanggo murangkalih anak usia dua tahun anu tiasa katampi ku lidah anak balita. Sapertos upami ayam teh ayam jujut atanapi rolade,” ujarnya.
Ia menilai ayam dengan tekstur yang alot belum tentu mudah dikonsumsi balita.
Di sinilah persoalan itu bermula.
Makanan yang seharusnya menjadi asupan bergizi untuk anak justru berpotensi tersisa ketika anak kesulitan mengunyah atau tidak menyukai teksturnya.
Bagi orang tua, makanan yang tidak termakan tentu menimbulkan pertanyaan sederhana, untuk siapa makanan itu sebenarnya disiapkan?
Ibu tersebut mengaku pernah menyampaikan masukan kepada pihak penyedia MBG.
Namun, jawaban yang diterimanya membuat persoalan itu terasa belum menemukan jalan keluar.
“Pernah ogé usul, mung saurna mah diwaler, tos alhamdulillah atuh kengeng MBG ogé tos we tuang ku ortuna,” katanya.
Pada akhirnya, makanan yang diterima anak justru lebih sering dikonsumsi oleh dirinya dan suaminya.
“Janten anu sehat téh abdi sareng caroge, nuangan MBG unggal dinten. Da tara dituang ku murangkalih mah,” ucapnya.
Program MBG memang telah menghadirkan makanan ke tangan penerima manfaat. Tetapi ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada makanan yang dibagikan.
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting, apakah makanan itu dimakan oleh anak yang menjadi sasaran program?
Sebab, makanan yang bergizi di atas kertas tidak akan memberikan manfaat apabila tidak mampu dikonsumsi oleh penerimanya.
Keluhan orang tua juga menyentuh kondisi buah pisang yang dibagikan. Pisang yang diterima dinilai sebagian orang tua tidak layak dikonsumsi anak-anak.
Melihat kondisi tersebut membuat mereka berharap SPPG Nagrak melakukan evaluasi menyeluruh terhadap menu B3.
Mulai dari jenis makanan, tekstur, rasa, porsi hingga kualitas bahan makanan perlu mendapat perhatian.
Menu yang terlalu keras dapat menyulitkan anak. Porsi yang tidak sesuai dapat membuat makanan tersisa. Rasa yang tidak familiar bisa membuat anak enggan makan.
Dan ketika makanan tidak dikonsumsi, tujuan pemberian makanan bergizi pun menjadi tidak maksimal.
Para orang tua menegaskan, kritik yang mereka sampaikan bukan bentuk penolakan terhadap program MBG.
Sebaliknya, mereka ingin program tersebut berjalan lebih baik dan benar-benar menyentuh kebutuhan anak.
Mereka berharap makanan yang datang bukan hanya terlihat lengkap, tetapi juga sesuai dengan usia dan kemampuan makan penerima manfaat.
Menunggu Jawaban dari SPPG
Di tengah keluhan tersebut, publik tentu membutuhkan penjelasan dari pihak penyelenggara.
Apa pertimbangan SPPG Nagrak dalam menentukan menu untuk kelompok B3?
Bagaimana standar tekstur makanan bagi penerima usia dini?
Bagaimana memastikan buah dan seluruh makanan yang dibagikan berada dalam kondisi layak konsumsi?
Dan yang tidak kalah penting, bagaimana SPPG memastikan menu tersebut memenuhi kebutuhan gizi anak?
Tim www.inilahcianjur.com mencoba mendatangi SPPG Nagrak untuk meminta klarifikasi atas keluhan para orang tua. Namun, Kepala SPPG Nagrak tidak berada di lokasi.
Dua relawan yang ditemui mengatakan seluruh pihak yang berkepentingan telah meninggalkan tempat.
“Kin kadieu deui pak, sadayana tos pulang,” ungkap dua relawan saat ditemui, Kamis (20/8/2026).
Hingga berita ini ditulis, pihak SPPG Nagrak belum memberikan tanggapan.
Di balik satu paket makanan yang dibagikan, terdapat harapan orang tua agar anak mereka mendapatkan asupan yang benar-benar bergizi.
Karena bagi seorang ibu, makanan untuk anak bukan sekadar apa yang tersedia di dalam kotak.
Yang paling penting adalah apakah anak bisa memakannya, apakah makanan itu layak, dan apakah manfaat gizinya benar-benar sampai kepada mereka yang menjadi sasaran program. ***


