Jembatan Harapan di Mandala Kasih: Dari Deras Arus Sungai ke Langkah Aman Anak Sekolah

  • Bagikan
banner 468x60

GARUT | INILAHCIANJUR.COM —
Pagi itu di Desa Mandala Kasih dulu selalu dimulai dengan kecemasan. Bukan karena bel sekolah yang terlambat berbunyi, melainkan karena sungai yang harus ditaklukkan. Bagi anak-anak berseragam putih-merah di desa pesisir Kecamatan Pameungpeuk ini, perjalanan menuju sekolah pernah menjadi pertaruhan nyali.

Sebelum jembatan gantung berdiri, aliran Sungai Cikaso dan Sungai Cipalebuh menjadi penghalang yang tak kenal kompromi. Ketika hujan turun di hulu, air bisa mendadak meninggi. Anak-anak terpaksa menunggu surut, atau memilih menyeberang dengan langkah ragu, menggenggam tas sekolah seerat mungkin.

Pemandangan itu masih melekat di ingatan Babinsa Desa Mandala Kasih, Serka Imat. Setiap pagi ia menyaksikan kegamangan yang sama, rasa takut yang sama, pada wajah-wajah kecil yang seharusnya hanya memikirkan pelajaran di kelas.

“Kami agak miris. Anak-anak sekolah harus menyeberang sungai. Di bawah ini aliran dua sungai menyatu, Cikaso dan Cipalebuh, bermuara di Leuwi Niis. Kalau hujan di hulu, airnya langsung besar,” ujar Serka Imat saat berdiri di atas jembatan gantung Cipalebuh, Jumat (23/1).

Warga Melintas diatas sungai

Pertemuan dua sungai membuat debit air sulit ditebak. Sungai yang kian dangkal justru mempercepat luapan. Dalam kondisi seperti itu, jembatan tak jarang kalah kuat. Sudah beberapa kali jembatan di lokasi ini roboh, hanyut diterjang banjir.

“Air terus bertambah, sementara sungainya mendangkal. Itu yang bikin jembatan-jembatan sebelumnya rusak,” tuturnya lirih.

Kini, jembatan gantung yang membentang sepanjang 80 meter dengan lebar 1,20 meter kembali berdiri. Ini merupakan pembangunan keempat di titik yang sama, menghubungkan Kampung Punaga Jolok RW 09 dan Kampung Baru RW 08. Bagi warga, jembatan ini bukan sekadar besi dan papan, ia adalah denyut kehidupan.

Baca Juga :

https://inilahcianjur.com/tidak-benar-prabowo-abaikan-keamanan-palestina-ini-faktanya/

Proses pembangunannya berlangsung dengan kehati-hatian ekstra. Pengalaman pahit menjadi guru terbaik. Material dipilih lebih matang, konstruksi diperkuat, dan pekerjaan dilakukan bergotong royong. TNI, relawan, dan warga bahu-membahu, bekerja dari pagi hingga dini hari, sering kali berpacu dengan cuaca pantai yang lembap dan tak menentu.

Bagi Serka Imat, jembatan ini bukan hanya proyek fisik. Ada ikatan batin sebagai pembina wilayah yang terlibat langsung dari perencanaan hingga terwujud. “Saya selalu berkoordinasi dengan kepala desa dan Muspika. Alhamdulillah, setiap rencana dan usulan bisa terealisasi. Itu yang membuat kami bangga,” katanya.

Baca Juga

https://inicianjur.com/2026/01/27/menerjang-ombak-danau-sentani-petugas-sppg-antar-mbg-dengan-kapal-cepat/

Namun kebanggaan terbesar bukan terletak pada rampungnya pembangunan, melainkan pada perubahan yang langsung terasa. Anak-anak kini melangkah ke sekolah tanpa rasa takut. Petani tak lagi menunda ke sawah menunggu air surut. Nelayan bisa bergerak lebih cepat menuju muara.

“Semua lelah terbayar ketika melihat warga tersenyum. Kebahagiaan mereka itu yang mengobati jerih payah kami,” ucap Serka Imat.

Kini, setiap pagi, jembatan gantung Mandala Kasih kembali ramai oleh langkah-langkah kecil menuju masa depan. Tak ada lagi air sungai yang mengancam hak belajar. Di atas jembatan sederhana itu, harapan tumbuh bahwa keselamatan dan pendidikan tak lagi harus dikalahkan oleh derasnya arus.

Di desa ini, jembatan gantung bukan hanya penghubung dua kampung. Ia menjadi simbol hadirnya negara, lewat kerja bersama TNI dan masyarakat, yang mengubah rasa miris menjadi keyakinan bahwa harapan selalu bisa dibangun, setapak demi setapak.***

banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!