Kalapas Cianjur Eris Ramdani bersama pihak MBG. (Dok)
CIANJUR | INICIANJUR.COM — Pagi itu, aktivitas di area peternakan Lapas Kelas IIB Cianjur berjalan seperti biasa. Derap langkah warga binaan, suara ayam petelur, dan rutinitas memberi pakan menjadi pemandangan harian yang perlahan menumbuhkan harapan. Dari tempat inilah, sebuah program pembinaan kemandirian tumbuh dan kini menembus pasar kebutuhan pangan Dapur MBG.
Selama hampir satu tahun terakhir, Lapas Cianjur mengembangkan program peternakan ayam petelur sebagai bagian dari pembinaan keterampilan bagi warga binaan.
Hasilnya tidak lagi sekadar latihan atau simulasi. Produksi telur dari balik tembok lapas itu telah mengalir keluar, dengan dua kali pengiriman dan total mencapai 200 kilogram telur ayam ke Dapur MBG.
Bagi warga binaan, program ini bukan sekadar rutinitas. Setiap hari mereka belajar merawat ternak, mengatur pakan, menjaga kebersihan kandang, hingga memahami waktu panen dan distribusi.
Proses tersebut melatih kedisiplinan, ketelatenan, dan rasa tanggung jawab, nilai-nilai yang kerap menjadi kunci saat mereka kembali ke masyarakat. “Kami ingin pembinaan di sini benar-benar memberi bekal nyata,” ujar Kepala Lapas Kelas IIB Cianjur, Eris Ramdani. Rabu, (24/12/2025)
Baca juga
Menurutnya, keberhasilan program ini lahir dari komitmen bersama seluruh jajaran yang konsisten menjalankan pembinaan berkelanjutan.
Eris menilai program kemandirian tidak hanya harus mendidik, tetapi juga menghasilkan produk yang berkualitas dan memiliki nilai ekonomi. Keberhasilan memasok telur ke Dapur MBG, kata dia, menunjukkan tumbuhnya kepercayaan pihak eksternal terhadap hasil pembinaan di Lapas Cianjur.
Di balik angka produksi dan pengiriman, tersimpan cerita perubahan. Program peternakan ayam petelur membuka ruang bagi warga binaan untuk membangun kembali rasa percaya diri. Mereka tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga menyiapkan diri untuk hidup mandiri setelah bebas.
Arah pembinaan pemasyarakatan kini bergerak ke pendekatan yang lebih produktif, humanis, dan berorientasi masa depan. Lapas Cianjur menjadikan program ini sebagai pijakan untuk mengembangkan pembinaan kemandirian lainnya, dengan harapan semakin banyak keterampilan yang bisa dikuasai warga binaan.
Dari kandang ayam di balik jeruji, telur-telur itu melaju ke dapur kebutuhan masyarakat. Lebih dari sekadar hasil ternak, produksi tersebut membawa pesan bahwa kesempatan kedua selalu ada—asal dibangun dengan pembinaan, kepercayaan, dan kerja keras.***
















